Fenomena Ramadhan di Indonesia

Sep 02

Fenomena Ramadhan di Indonesia. Apa kira-kira menurut kalian fenomena ramadhan di Indonesia? Nah, Kali ini shandy mau mencoba membahas sedikit nih tentang fenomena ramadhan di indonesia. Perlu digarisbawahi di awal ya, tulisan tentang fenomena ramadhan di Indonesia ini bukan berdasarkan hasil penelitian, ataupun hasil statistik yang shandy peroleh, tapi, ini hanyalah berdasarkan pengalaman atau pandangan saya pribadi atau mungkin fenomena ini juga dirasakan oleh kalian selaku pembaca. Apa aja fenomenanya? Yuk disimak.

Ada 2 fenomena ramadhan di Indonesia yang bakal dibahas di tulisan ini, yakni,

  • Kemajuan, dan
  • Peningkatan

Ya, fenomena ramadhan yang akan dibahas di sini adalah mengenai Kemajuan dan Peningkatan yang terjadi pada setiap ramadhan di Indonesia. Apa maksudnya dan bagaimana penjelasannya? Silahkan atuh dilanjutkan baca’a (smile).

1. Kemajuan

Salah satu ibadah yang menjadi ciri khas bulan ramadhan, selain tentunya puasa, adalah shalat tarawih. Nah, kemajuan di bulan ramadhan yang akan dibahas disini berkaitan nih dengan shalat tarawih. Coba deh diingat-ingat atau dirasakan sendiri di ramadhan kali ini. Setiap tahunnya, setiap datang bulan ramadhan, di hari-hari pertama ramadhan pasti deh banyaknya jamaah shalat tarawih mengalahkan banyaknya jamaah shalat jum’at.

Di hari-hari pertama ramadhan, dengan antusias dan semangat para umat muslim Indonesia berbondong-bondong mendatangi masjid atau mushola untuk menjalankan shalat tarawih. Sampai-sampai ruangan masjid atau mushola tidak cukup sehingga harus ditambah di halaman masjid atau mushola agar para jamaah shalat tarawih bisa ikut shalat bersama.

Nah, seiring dengan akan berakhirnya bulan ramadhan, jamaah shalat tarawih pun mengalami kemajuan. Ya, mendekati lebaran, ketika ramadhan memasuki 10 hari terakhir, ketika ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, jamaah shalat tarawih pun mengalami kemajuan. Sudahkah ada yang mengerti maksud dari kemajuan disini?

Ketika mendekati akhir ramadhan, aktivitas shalat tarawih mengalami kemajuan. Ya! Shaf shalat tarawih semakin maju. Tahu artinya? Jamaah shalat tarawih semakin sedikit. Kemajuan yang dimaksud disini pada akhirnya adalah shaf shalat tarawih, ketika mendekati akhir ramadhan semakin maju. Ketika di awal ramadhan seluruh masjid terisi penuh oleh jamaah shalat tarawih hingga shaf-shaf terbelakang. Tapi, ketika mendekati akhir ramadhan, shaf yang terisi ketika shalat tarawih semakin maju, semakin sedikit jamaahnya.

Kecewa karena makna dari kata kemajuan pada tulisan ini tidak sesuai dengan yang anda harapkan? Takut dikecawakn lagi jika makna dari kata peningkatan tidak sesuai dengan yang ada harapkan? Yaa, silahkan ditutup saja laman web ini, ga ada yang memaksa Anda untuk membaca hingga selesai koq (smile). Kalau masih tetap penasaran, ya silahkan baca fenomena ramadhan di indonesia yang kedua ini.

2. Peningkatan

Menjelang ramadhan, bulan dimana kita dilatih kesabaran dan keikhlasan, rasa toleransi antar umat muslim pun meningkat. Toleransi ini akan erat kaitannya dengan rumah makan. Kenapa rumah makan? Ya karena saya mau’a dikaitkan dengan rumah makan, toh ini tulisan saya, hehe. Oke, sekarang serius, kenapa rumah makan? Apa kaitan toleransi antar umat muslim dengan rumah makan?

Menginjak bulan ramadhan, hampir semua rumah makan, baik yang ada di pinggir jalan ataupun yang ada di pertokoan, entah itu mall, plaza, ataupun town square, mereka semua menunjukkan apresiasi dan toleransi akan datang’a bulan ramadhan. Dimulai dari hari pertama ramadhan, mereka mulai menutup rumah makannya. Ada dua jenis, yang pertama, tetap membuka operasional rumah makan mereka tetapi tetap dalam kondisi tertutup, tidak terlihat dari luar rumah makan, untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa. Jenis yang kedua adalah, mereka membuka rumah makan mereka pada waktu menjelang berbuka puasa hingga malam.

Hal yang akan dibahas lebih lanjut adalah jenis yang pertama, ketika sebuah rumah makan tetap membuka rumah makan mereka dalam kondisi tertutup. Pada hari-hari awal ramadhan, kondisi rumah makan tertutup, para pejalan kaki yang lalu lalang tidak akan merasakan adanya aktivitas rumah makan disana karena tidak terlihat dari luar rumah makan. Tahukah atau sadarkah kalian ketika mendekati akhir ramadhan? Fenomena menarik ini sekali lagi bukanlah berdasarkan hasil penelitian ilmiah, hanya pengalaman, pengamatan serta penelitian pribadi saya, ala saya tentunya (goodluck).

Nah, fenomena yang paling menarik adalah ketika mengamati rumah makan warung tegal, ya, yang lebih familiar dengan istilah warteg. Di awal ramadhan, warteg pun memberikan toleransi mereka dengan menutup rumah makan mereka. Sering dengan bergantinya hari di bulan ramadhan, perlahan penutup warteg itu pun semakin meningkat. Dari pertama, rumah makan ini tertutup, kemudian penutupnya semakin hari semakin meningkat, diawali dengan hanya sebatas kaki yang terlihat. Ya, jika kalian sadar, makan akan ada beberapa rumah makan yang menggunakan teknik ini, mereka membuka rumah makan mereka hanya sebatas kaki. Jadi, ketika ada orang lalu-lalang, akan terlihat lah kaki-kaki dari orang-orang yang sedang menikmati makanan di rumah makan tersebut. Menjelang berakhirnya ramadhan, menjelang berakhirnya pula penutup rumah makan tersebut, dari mulai hanya sebatas kaki yang terlihat, hanya setengah badan yang terlihat, hingga rumah makan tersebut dibuka secara terang-terangan.

Dua fenomena ramadhan di Indonesia yang sederhana.

Ya, sederhana, tapi memiliki makna yang cukup dalam. Bagaimana kontinuitas kita dalam menghadapi ramadhan diuji. Bagaimana sikap konsisten kita dalam mengikuti shalat tarawih di masjid/mushola tidak hanya di awal-awal ramadhan saja. Bagaimana semangat berpuasa kita bisa tetap kita jaga hingga akhir ramadhan. Bagaimana toleransi kita dalam hidup beragama dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Kemana umat muslim ketika menjelang berakhirnya ramadhan sehingga membuat shaf-shaf di masjid dan mushola mengalami ‘kemajuan’? Kemana semangat marhaban ya ramadhan ketika menjelang berakhirnya ramadhan sehingga membuat ibadah kita menjadi turun? Kemana kita disaat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan menghampiri kita?

Mari kita jaga sikap konsisten kita pada ramadhan kali ini, jangan sampai kita termasuk salah satu orang yang terjebak dalam fenomena ramadhan di Indonesia ini, dan jangan sampai kita baru merasa kehilangan justru ketika ramadhan telah pergi.

Kata Kunci yang berhubungan dengan artikel ini:

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Post to Ping.fm

468 ad

2 comments

  1. (ninja) Ups merasa tertohok baca ini, belom melaksanakan ibadah ramdhan sebaik-baiknya.(worship) makasih diingatkan.

    [Balas]


  2. Ramdhan jadi fenomenan sembako pada mahal

    [Balas]


Leave a Reply

Kode html yang dapat digunakan ↓
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
(angry) (annoyed) (applause) (banana_cool) (banana_rock) (smile) (doh) (drinking) (evil_grin) (glasses) (goodluck) (gym) (haha) (heart_beat) (hungry) (idiot) (laugh) (lmao) (lol) (music) (ninja) (nottalking) (poem) (rock) (tears) (thinking) (unsure) (woot) (worship)