Assalamu’alaikum…
Yap, hari ini saya mengikuti acara Sabtu Ceria yang ke-2. Buat yang baru baca tulisan ini trus blom tau apa sih Sabtu Ceria itu, bisa dibaca di postingan sebelumnya, “Sabtu Ceria”. Humh, ini dikasih penjelasannya sedikit deh, tapi klo mau baca gimana kegiatan Sabtu Ceria yang pertama, ini link’a : Sabtu Ceria.
Langsung dimulai aja deh. Seperti Sabtu Ceria sebelumnya, datang sebelum pukul 06.30, dan sekarang saya tidak dianggap telat lagi lho. Saya masuk ke dalam barisan peserta yang datang tepat waktu. Setelah diabsen dan mendapat sedikit materi tentang “Studying and Learning“, kamipun memulai langsung memulai rangkaian-rangkaian kegiatan SabCer [Sabtu Ceria].
Pertama-tama kami melakukan senam dan olahraga. Dimulai dari berlari berputar mengelilingi gedung bundar Fasilkom, kemudian dilanjutkan dengan senam-senam kecil bersama-sama. Berbeda dengan SabCer sebelumnya, setelah kami senam, kami dibagi menjadi kelompok-kelompok dan kemudian berjalan berkelompok meninggalkan Fasilkom dan menuju ‘hutan’ dekat dengan UI-WOOD.
Setelah melalui jalanan yang becek dan licin, kamipun sampai di ‘hutan’ dekat dengan UI-WOOD. Ternyata, acara yang telah disiapkan panitia di tempat itu adalah bermain, games, atau mungkin lebih bisa disebut sebagai simulasi atau dinamika kelompok. Ada 4 pos yang telah disiapkan.
Pos pertama yang kami lewati adalah berjalan bersama, satu kelompok, dengan kaki kiri diikat ke kaki kanan teman satu kelompok, dan kaki kanan diikat ke kaki kiri teman satu kelompok, dengan menggunakan tali. Games ini menjadi sangat sulit jika tidak ada koordinasi yang baik antar anggota kelompok. Kelompok saya kalah ketika harus adu cepat dengan kelompok lain untuk mencapai tempat tertentu.:sedih:
Pos kedua kembali menggunakan tali, tapi kali ini, tali digunakan untuk mengikat tangan. Tali dibuat semacam borgol, dan setiap orang menggunakannya. Games ini dimainkan dengan cara satu orang memasang ‘borgol’ kemudian orang yang satu lagi memasang ‘borgol’ tetapi dikaitkan terlebih dahulu ke borgol yang satu lagi. Haio? gimana tuh? nanti digugah [baca: upload] deh fotonya biar tau. Nah, klo udah terpasang, tinggal gimana caranya deh tuh biar bisa lepas tanpa melepas ikatan tali. Bisa muter-muter, jungkir-balik, segalanya deh. Tapi, sayangnya saya udah ‘khatam’ games yang ini, udah tau sebelumnya. Jadi, yaa tinggal senyum-senyum aja deh liatin yang pada ‘tersiksa’ buat ngelepasin tuh tali..:ketawa:
Oke, lanjut ke pos ketiga, ini jadi pos terakhir kelompok saya, karena waktunya udah habis. Di pos ketiga, kami memainkan games “Polisi, Maling, dan Warga Sipil”. Mainnya agak ribet, pake kedip²an mata gitu. Mainnya aja susahnya minta ampun, apalagi jelasinnya nih. Ga usah yaa..hehe Owh iya, buat games yang ini, saya juga udah tau sebelumnya, pernah main pas lagi SIWAK-NG. Duwh, jadi ga seru deh.
Setelah semua kelompok menyelesaikan kegiatan di pos’a masing-masing, kamipun kembali ke Fasilkom untuk melanjutkan acara selanjutnya. Sampai di Fasilkom sekitar pukul 09.40. Sekitar pukul 10.00 kami menuju lapangan belakang Fasilkom.
Kegiatan di tempat tersebut dimulai dengan bermain “Berbalas Pantun”. Kami dibagi menjadi 6 kelompok. Ketentuan pantunnya, pokoknya di dalam pantun tersebut, mengandung 2 nama anggota kelompok sendiri dan 2 nama anggota kelompok dari kelompok yang sedang dilawan. Awalnya bingung banget gimana tuh bikinnya, apalagi saya juga bukan orang yang bisa membuat pantun dengan
mudahnya. Tapi akhirnya, saya pun bisa membuat 1 buah pantun untuk digunakan, hoho. Ini nih pantun yang saya buat:
Ada Eka ada Yuri,
Ada Edu ada Shandy,
Kalaulah kita tinggal sendiri,
Haruslah kita bisa menjaga hati.
Entah nyambung apa ngga, hihi..:malu:Ada yang trus komen gt “gombal..” waduh! Sebenernya maksudnya tuh buat para kos-kosaners [apa sih nih? hehe] yang pada tinggalnya jauh dari ortu, biar bisa jaga diri. Owh iya ya, kenapa ngga ‘menjaga diri’ aja ya ketimbang ‘menjaga hati’? Biarlah..hehe
Setelah semua nama-nama udah kesebut. Permainan pun berakhir. Banyak lho pantun² kreatif yang dihasilkan, lucu-lucu pula. Setelah selesai, kamipun lanjut ke acara selanjutnya. Acara yang dinanti-nanti.
Tidak berbeda jauh dengan SabCer sebelumnya, kami melakukan banyak simulasi-simulasi. Membentuk tulisan ULTRA, FASILKOM, 2008, membentuk bola pejal, membentuk lingkaran kemudian membentuk spiral. Hmm.. dari sekian banyak, saya akan menceritakan 2 hal saja.
Pertama, yaitu tentang simulasi “Piramida Manusia”. Pada simulasi ini, kami harus bisa mengambil kantong plastik berisi 1 botol air mineral 600ml. Kantong plastik tersebut ditaruh di ranting pohon yang lumayan tinggi. Yap, udah seperti panjat pinang, walau ga ada pinangnya. Kamipun kemudian membentuk ‘fondasi’ untuk menjadi dasar ‘tangga manusia’ untuk bisa mengambil kantong tersebut. Saya ikut ambil bagian dengan menjadi ‘anak tangga’ kedua. Kantong tersebut ternyata bisa diambil dengan 3 ‘anak tangga’. Setelah ‘fondasi’ dan ‘anak tangga’ kedua siap, salah seorang dari kamipun naik untuk menjadi pengambil kantong tersebut.
Setelah berkali-kali keberhasilan kami tertunda, kami pun akhirnya bisa meraih kantong tersebut :tepuktangan:. Ketika itu teman saya Arnold yang menjadi sang ‘eksekutor’ mengambil kantong tersebut. Senang rasanya bisa berhasil. Kunci dari simulasi ini adalah Fokus dan Percaya. Fokus dengan apa yang harus dilakukan, karena kesalahan kecil bisa menyusahkan orang lain. Percaya, ya ini adalah hal yang paling penting. Kita harus percaya pada setiap individu yang terlibat. Percaya kalau fondasi yang ada itu adalah fondasi yang akan menopang kita, yang tidak akan membiarkan kita terjatuh. Percaya bahwa setiap individu yang terlibat akan melakukan hal yang semestinya dilakukan.
– Serius mode: ON
Kedua, yaitu tentang suatu hal yang sedikit banyak memberikan saya pencerahan akan kehidupan di Fasilkom. Dan hal ini saya dapatkan dari sebuah pernyataan yang sangat-sangat sederhana dari seorang panitia. Ini adalah poin yang amat penting yang saya petik pada hari ini. Let’s see.
Ketika itu kami baru saja selesai membuat bentuk spiral. Kemudian salah seorang dari panitia mengomando [baca: mengkomando, tapi Bahasa Indonesia yang bakunya 'mengomando'] kami untuk membentuk SATU bola pejal. SATU. Dan peserta yang ada merupakan gabungan Laki-laki dan Perempuan. Dapatkah dibayangkan? Sebuah bola pejal, yang merupakan kesatuan dari orang-orang
yang merapat, yang saling ‘berpelukan’ satu dengan yang lain, yang “berdempetan” untuk mengisi setiap luang yang ada sehingga terbentuk sebuah pejal. Dapatkah dipikirkan? Antara laki-laki dan perempuan? :geram:
Apakah kemudian simulasi itu dilakukan? TIDAK! Saya langsung melayangkan penolakan akan hal itu. Panitia yang memberi komando kemudian bertanya balik kepada saya, “Kenapa tidak bisa?”. Kenapa?!. Saya hanya menjawab dengan sederhana kala itu, “bukan muhrim Ka’, hal terpenting, Agama”. :hey:
‘Kejadian’ kecil itu telah memberi saya sedikit banyak pencerahan bagaimana kehidupan di Fasilkom yang sebenarnya. Sebuah asumsi pribadi. Sungguh ironis ketika pada SabCer kali ini saya melihat banyak sekali peserta laki-laki dan perempuan yang harus bersentuhan, berpegangan tangan, dengan bukan muhrim, disebabkan tuntutan keadaan. :sedih:
Ya, setiap tempat memiliki kultur budaya yang berbeda-beda, setiap individu memiliki persepsi yang berbeda-beda pula. Saya melihat ini sebagai suatu yang amat sangat janggal karena ketika saya di SMA, laki-laki dan perempuan bergaul tidak sebebas seperti saat ini, seperti di Fasilkom. Bahkan hampir tidak pernah suatu acara atau kegiatan atau games melibatkan laki-laki dan perempuan dalam satu kesatuan, apalagi saling berpegangan tangan dengan bukan muhrim. :senyum:
Ya, saya memang tidak bisa membanding-bandingkan antara kehidupan SMA saya dan kehidupan di Fasilkom. Hal ini karena memang individu-individu yang ada sangatlah berbeda, begitu pula norma-norma yang berlaku didalamnya. Tetapi, hal ini kembali ke individu masing-masing. Sudahkah nilai-nilai ajaran agama diterapkan pada kehidupan sehari-hari?
Fokus pada satu hal, bersentuhan dengan bukan muhrim. Sederhana. Hal yang sangat sederhana. Masihkah kita bersentuhan tangan dengan bukan muhrim?
Izinkan saya mengutip sebuah hadis:
“Kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada dia menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At Tabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir, 20/212/487 & Ar Ruyani dalam Al Musnad, 2/323/1283)
Saya disini hanyalah ingin mengingatkan, menasehati, agar kita bisa bersama-sama berubah untuk kebaikan diri kita masing-masing. :hati2:
Semoga bermanfaat..
Wassalam..
~ Duwh, cerita SabCer koq malah jadi kemana-mana ya..? :maaf:

Assalamu’alaikum…
wah seru tuh…:thumbup:
senang seafood?
mampir ke sukabumi selatan, kita bakar ikan di Pantai ujunggenteng!
boleh infonya tentang simulasi dinamika kelompok ga?
[Balas]
Wa’alaikumsalam..
Wah, boleh tuh ajakannya, mau mau
ke:
Senang banget, apalagi udang ama cumi, enaak
Info simulasi dinamika kelompok ya? Oke, kirim lewat e-mail aja ya. Nanti dibikin sejelas dan sedetail yang saya bisa deh :happy:
~ buat yang mau dikirimin info simulasi dinamika kelompok lewat e-mail juga, komen disini aja ya.
[Balas]
boleh tuh kak info tentang simulasi dinamika kelompoknya hehe
makasih ya kak sebelumnya
[Balas]
@mita, wah, makasih komen’a, jadi diingetin nih, pertanyaan dari @hamdi juga sampai sekarang belum dibalas sebenarnya, kebiasaan nunda-nunda nih.
owh iya, yang masalah dinamika kelompok, nanti dikirim ke email aja ya, Insya Allah besok pagi, ini udah malem + ngantuk soalnya, hehe.
[Balas]
Aboutisme
Search
shandyisme @ Flickr
Statistik
Total Pengunjung Sejak 1 Muharram 1430 H / 28 Desember 2008
View blog authority