What do you Think?
Oct 23
Sebenarnya saya belum mau menulis tentang salah satu kegiatan dari Mabim Fasilkom, yakni Evaluasi, sebelum acara rangkaian mabim benar-benar telah selesai. Tapi, apa yang saya alami hari ini pada saat evaluasi, benar-benar membuat saya tidak bisa mentolerir apa yang telah terjadi.
Cerita ini dimulai pada saat saya dan teman-teman angkatan 2008 menghadiri evaluasi, yang sudah secara rutin kami ikuti sekitar 2 bulan. Tapi, pada tulisan ini saya tidak akan menceritakan lebih jauh cerita-cerita tentang evaluasi yang telah saya ikuti sebelumnya. Saya akan fokus pada evaluasi yang saya ikuti pada hari Kamis, 23 Oktober 2008.
Selesai perkuliahan, sekitar pukul 15.30, saya dan teman-teman Fasilkom angkatan 2008 pertama dikumpulkan di lapangan belakang gedung Fasilkom, tapi dikarenakan hujan, kami pun pindah ke gedung B lantai 6. Ketika baru memasuki ruangan, saya pun langsung menghampiri K’ Yuan, selaku Komite PMB, selaku PO MABIM. Ketika itu saya mengingatkan K’ Yuan bahwa saya dan teman-teman muslim angkatan ‘08 belum melaksanakan sholat ashar, dan mengingatkan kembali agar kejadian minggu lalu, dan 2 minggu lalu kalau saya tidak salah tidak terulang kembali. Saat itu, kami baru selesai evaluasi sekitar jam 5 dan kami baru melaksanakan shalat ashar setelah itu. Ketika saya mengutarakan hal tersebut, K’ Yuan mengatakan kepada saya bahwa evaluasi tidak akan berlangsung lama dan kami bisa melaksanakan shalat ashar dengan tidak terlalu terlambat. Akhirnya saya pun mengikuti evaluasi dengan jaminan tersebut.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.00, ketika itu kami sedang berbincang-bincang dengan para pementor. Belum ada tanda-tanda evaluasi akan berakhir, dan kami belum juga melaksanakan shalat ashar. Tidak lama kemudian, teman saya Wawan mengungkapkan pendapatnya, dia mengusulkan kepada semua pihak yang terlibat dalam acara evaluasi agar bisa mengkondisikan supaya angkatan ‘08 bisa melaksanakan shalat ashar terlebih dahulu sebelum mengikuti evaluasi. Asumsi saya, Wawan memiliki pemikiran yang sama dengan saya, kami belum melaksanakan shalat ashar dan acara belum kunjung selesai, dan ingin agar panitia bisa segera menyudahi acara ini. Tetapi hingga sekitar pukul 17.15, kami masih juga berada di tempat evaluasi, ya, evaluasi belum juga berakhir. Saya pikir, dengan statement yang dilontarkan oleh Wawan, acara akan segera disudahi, tapi panitia masih juga melanjutkan acara tersebut. Asumsi saya mungkin panitia menganggap statement tersebut sebagai salah satu feedback saja, tapi tidak dianggap sebagai sebuah pengingat kalau angkatan ‘08 belum melakukan shalat ashar. Atau mungkin tidak peduli? Pastinya bukan.
Karena sudah jenuh dan kesal karena acara tidak kunjung selesai, ketika kami diminta tanggapan akan suatu hal, saya pun angkat bicara, namun tidak menanggapi hal yang sedang dibahas, saya mengingatkan, atau bisa dikatakan memberikan “tuntutan” bahwa kami belum melakukan shalat ashar, dan waktu itu menunjukkan hampir PUKUL 17.30. Setelah melontarkan pernyataan tersebut, saya sudah tidak acuh lagi terhadap hal-hal yang sedang dibahas. Saya duduk di bagian belakang, dan saya berkali-kali menghadap ke arah panitia yang ada di bagian belakang seraya memberikan kode untuk mengingatkan jam berapa saat itu. JUJUR, saya sudah tidak peduli dengan apa yang sedang dibahas saat itu. Selesai evaluasi, saya langsung menghampiri K’ Yuan untuk kembali mengingatkan agar evaluasi selanjutnya, kami tidak seperti ini lagi.
Saya mengerti seberapa penting evaluasi tersebut. TAPI, apakah hal tersebut LEBIH PENTING dari melaksanakan KEWAJIBAN AGAMA? Saya mengerti bahwa panitia telah meluangkan waktunya untuk menyelenggarakan evaluasi ini. TAPI, bukankah ALANGKAH BAIKNYA jika kita melaksakan shalat ashar terlebih dahulu? Saya INGAT sekali, ketika kami melaksanakan shalat ashar, jam di Mushola Fasilkom menunjukkan PUKUL 17.30. Dan yang lebih mengejutkan adalah, ada beberapa panitia yang BARU melaksanakan shalat ashar bersamaan dengan kami. Sebuah hal yang wajar jika kami, angkatan 2008 baru melakanakan shalat pada waktu tersebut, karena kami memang baru keluar dari ruangan tersebut. Apakah memang beberapa panitia tersebut baru sempat melaksanakan shalat ashar? Karena yang saya tahu, panitia yang “membawa acara” bergantian dari Tibum kemudian Mentor. Tidak adakah sistem “giliran” untuk melaksanakan shalat ashar untuk panitia?
Kejadian ini telah menurunkan semangat saya dalam mengikuti rangkaian mabim. Kebanggan yang saat ini ada hanyalah kebanggaan bahwa saya mengikuti mabim karena saya bisa bersama-sama dengan teman satu angkatan saya, bukan kebanggaan mengikuti rangkaian kegiatan PMB lagi. Hal ini karena kejadian ini sudah terjadi lebih dari satu kali, tiga kali kalau saya tidak salah ingat. Kebanggaan dan semangat itu mungkin akan muncul kembali jika kejadian tersebut tidak akan terulang kembali.
Jika memang kegiatan ini memiliki tujuan yang baik, mengapa harus dihiasi dengan suatu hal yang tidak baik?
Semoga kejadian ini tidak akan pernah terulang kembali.
~ Source gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6c/Angry_Penguin.svg/424px-Angry_Penguin.svg.png







